Protozoa TRYPANOSOMA EVANSI pembunuh Badak Sumatra (dicerorhinus sumatrensis), Kuda, Unta dan Anjing

Gambar Badak sumatra (Sumatran_Rhinoceros_Way_Kambas_2008)

 TRYPANOSOMA EVANSI

Penyakit ini menjadi menakutkan pada satwa liar khususnya badak Sumatra (dicerorhinus sumatrensis) setelah kasus kematian badak Sumatra di sungai dusun Malaysia. awalnya penyakit ini dianggap tidak berbahaya pada badak karena memang kasusnya sangat jarang terjadi Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang notabene adalah habitat badak Sumatera menganggap identifikasi tentang penyakit ini menjadi sangat penting dan perlu dilakukan agar diperoleh acuan untuk manajemen pemeliharaan selanjutnya.

Trypanosomiasis (Surra) merupakan penyakit menular pada hewan yang bisa bersifat akut maupun kronis. Parasit darah – Protozoa ini pertama kali ditemukan oleh Evans tahun 1880 di India (Trypanosoma evansi). Awalnya ditemukan pada kuda, kemudian hampir semua hewan berdarah panas rentan terhadap penyakit ini dengan derajat kerentanan yang berbeda. Hewan yang paling rentan kuda, unta dan anjing. Ruminansia kurang rentan sedangkan unggas dan manusia kebal terhadap Surra.

Cara penularan : Trypanosoma evansi akan hidup dalam darah melalui vector seperti lalat penghisap darah golongan Tabanidae (sering disebut lalat pitak atau lalat kerbau) dengan cara mekanik murni dimana Trypanosoma tidak mengalami siklus hidup dalam vektor. Lalat lain : Chrysops, stomoxys, haematopota, lyperosia, haematobia dan beberapa arthopoda lain (anopheles, musca, pinjal, kutu dan caplak). Hewan yang mengandung penyakit tanpa gejala merupakan sumber penyakit yang berbahaya.
Gejala yang dapat ditemukan pada satwa yang terkena Surra
Kuda :

  • Inkubasi 4 – 13 hari,
  • demam (lebih 39 0C), lesu dan lemah.
  • Kadang-kadang pincang kaki belakang (bahkan lumpuh).
  • Mucosa mata agak kuning dengan ptechiae dan oedema kaki bawah.
  • Limfoglandula submaxilaris bengkak dan terasa panas kadang-kadang urtikaria.
  • Gejala syaraf cerebrospinal yaitu gerakan-gerakan yang tidak terkoordinasi dan berputar-putar,
  • biasanya nafsu makan tetap baik.

Sapi dan kerbau : Setelah melewati masa inkubasi timbul gejala umum :

  • temperatur naik, lesu,
  • letih dan nafsu makan terganggu. biasanya hewan dapat mengatasi penyakit walaupun dalam darahnya ada Trypanosoma bertahun-tahun.
  • Apabila sakit : demam selang seling, oedema bawah dagu dan anggota gerak, anemia, makin kurus dan bulu rontok.
  • Mucosa menguning awalnya cermin hidung mengering lalu keluar lendir dan air mata dan sering makan tanah.
  • Ketika masuk cairan cerebrospinal : sempoyongan, berputar-putar,gerak paksa dan kaku.

Badak Sumatera :

  • Kurang nafsu makan, lesu, kelemahan tubuh bagian belakang,
  • sulit ketika bernafas dan bias menyebabkan kematian yang sangat cepat.

Bahan pemeriksaan dapat berupa sediaan ulas darah tipis  dan dengan mikrohematokrit sentrifus: tabung hematokrit yang dilapisi heparin diisi darah lalu ujung ditancapkan cristoseal. Diputar 4-5 menit. Pemeriksaan diatas gelas obyek yang dibuat alur dengan mendekatkan 2 gelas obyek dibawah mikroskop. Sedangkan uji lebih details dilakukan dengan uji serum (antibody)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top