
IGNITING THE MIRACLE – John Avanzini, Cara “menyulut” Mujizat pada masa kini karena keajaiban tidak hanya ada di masa lalu.
Dr. John Avanzini – 26.11.2017
Hari ini, semua gereja di seluruh dunia selalu berkhotbah mengenai mujizat. Namun tidak banyak gereja yang mengajarkan tentang cara “menyulut” mujizat tersebut. Akibatnya, mujizat seringkali hanya menjadi sekedar “cerita masa lalu” yang hebat, namun tidak lagi dialami secara pribadi oleh banyak orang di masa ini.
Kebenarannya, hari ini Roh Kudus yang tinggal di dalam kita adalah Roh yang sama dengan yang bekerja di dalam Yesus 2000 tahun yang lalu. Yesus bahkan berkata bahwa kita dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada yang pernah Ia lakukan!
Yohanes 14:12
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
Itulah sebabnya gereja kita percaya, bahwa ledakan mujizat masih terjadi sampai hari ini. Dan tidak cukup kalau kita hanya memiliki dinamitnya, kita juga harus memiliki “korek” untuk menyulut dinamit tersebut.
Hari ini kita akan melihat beberapa kisah tentang mujizat di Alkitab, dan apa yang menyulut terjadinya mujizat itu.
- Elia mendatangkan hujan
1 Raja-Raja 18 mengisahkan bagaimana hujan sudah 3 tahun tidak turun dan seluruh negeri dilanda kekeringan. Di hadapan raja dan 400 orang nabi Baal, Elia membangun mezbah dan memanggil nama Tuhan. Tuhan menjawab doa Elia dan di akhir cerita, turunlah hujan lebat di atas negeri itu.
Kunci terjadinya mujizat ini adalah ketika Elia membangun mezbah untuk korbannya:
1 Raja-Raja 18:33-45
Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu. Sesudah itu ia berkata: “Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!” Kemudian katanya: “Buatlah begitu untuk kedua kalinya!” Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: “Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!” Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya,
Ingat bahwa air merupakan benda yang paling berharga di musim kekeringan itu, namun Elia justru menuangkan air sampai tiga kali di atas mezbah persembahannya.
Elia menabur air, dan ia menuai hujan lebat.

- Janda di Sarfat
Ketika Elia pergi ke Sarfat, ia berjumpa dengan seorang janda miskin yang hanya mempunyai sedikit tepung dan minyak untuk membuat roti terakhir bagi ia dan anaknya. Mujizat terjadi: tepung di dalam tempayan dan minyak di dalam buli-buli milik si janda terus mengalir dan tidak habis-habis sehingga dapat menghidupi keluarga mereka untuk beberapa waktu lamanya.
Kunci terjadinya mujizat ini adalah ketika si janda di tengah kekurangannya justru mendahulukan Elia:
1 Raja-Raja 17:13
Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.
Orang lain mungkin akan membuat roti untuk dirinya sendiri dulu, dan kalau ada sisa baru memberikan untuk Elia. Hal yang sama dilakukan oleh banyak orang ketika memperoleh berkat Tuhan. Mereka membeli semua kebutuhannya dulu, dan baru memberikan “sisa” untuk Tuhan. Alkitab mengajarkan sebaliknya: pertama-tama kita harus membayar dahulu persepuluhan kita, dan Tuhan akan mencukupkan kebutuhan kita dengan sisanya!
Sang janda menabur tepung dan minyak, dan ia menuai tepung dan minyak yang berkelimpahan.
- Abraham dan Sara
Abraham dan Sara telah memperoleh janji Tuhan bahwa mereka akan memiliki anak di hari tuanya, walaupun secara manusia sepertinya mustahil. Kita tahu bahwa akhirnya mujizat terjadi dan janji itu digenapi 25 tahun kemudian, ketika Abraham telah berusia 100 tahun.
Tetapi apakah yang menjadi kunci yang menyulut terjadinya mujizat tersebut?
Kejadian 20:17-18
Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak. Sebab tadinya TUHAN telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, isteri Abraham itu.
Abraham dan Sara menantikan kelahiran anak, dan tepat sebelum Sara mengandung, Abraham dan Sara pergi ke rumah Abimelekh dan mendoakan seisi rumah itu, karena semua perempuan di istana Abimelekh tidak dapat melahirkan anak.
Abraham dan Sara menabur doa agar orang lain mendapat anak, dan mereka menuai anak mereka sendiri.
- Allah Bapa dan Yesus
Manusia telah jatuh ke dalam dosa, dan akibatnya hubungan antara kita dengan Bapa telah terputus. Namun Bapa sangat rindu untuk memulihkan hubungan tersebut dan menjadikan kita semua anak-anak-Nya.
Apakah yang kemudian Bapa lakukan?
Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Demi menjadikan kita anak-anak Allah, Bapa mengirimkan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Maut dikalahkan dan hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan.
Allah Bapa menabur Anak-Nya yang tunggal, dan Ia menuai kita semua menjadi anak-anak-Nya.
Dari semua contoh di atas, kita dapat melihat sebuah pola yang selalu sama: APA YANG KITA TABUR, ITULAH YANG KITA TUAI. Inilah kunci untuk menyulut terjadinya mujizat dalam kehidupan kita.
Galatia 6:7
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.
Time to discuss and change:
Hari ini, apa yang menjadi kerinduan hati saudara? Mari memutuskan untuk menabur hal tersebut terlebih dahulu ke dalam kehidupan orang lain, dan percaya kalau Tuhan yang akan memberikan tuaian untuk saudara.