Pengertian Fitoplankton (plankton nabati)
Fitoplankton adalah plankton yang bergantung pada fotosintesis untuk suplai energi. Ini termasuk alga dan bakteri seperti ganggang biru- hijau . Fitoplankton adalah penghasil oksigen terbesar di bumi.
Fitoplankton adalah (dari phyton Yunani, atau tumbuhan), autotrophic, prokariotik atau eukariotik alga yang hidup dekat permukaan air di mana ada cahaya yang cukup untuk dukungan fotosintesis. Di antara kelompok-kelompok lebih penting adalah diatom, cyanobacteria, dinoflagellates dan coccolithophores (Sunarto. 2010).
Fitoplankton menurut Davis (1951) adalah mikroorganisme nabati yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak sehingga keberadaanya dipengaruhi oleh gerakan air serta mampu berfotosintesis (Samawi, 2002).
Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang dilaut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 – 200µm (1 µm = 0,001mm). fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai. Fitoplankton merupakan organisme autotroph utama dalam kehidupan di laut. Melalui proses fotosisntesis yang dilakukannya, fitoplankton mampu menjadi sumber energi bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai makanan. Walaupun memiliki ukuran yang kecil namun memiliki jumlah yang tinggi sehingga mampu menjadi pondasi dalam piramida makanan di laut ( Sunarto, 2010).
Kelompok penting alga di fitoplankton adalah diatom dan dinoflagellata .

Karena kemampuannya yang dapat membuat makanan sendiri fitoplanton mempunyai kedudukan yang sebagai produsen primer. Tanpa fitoplankton diperkirakan laut yang sangat luas tidak akan dihuni oleh beberapa jenis biota yang mampu hidup dari rantai kehidupan lainnya (Notji, 2002). Fitoplankton bertanggung jawab untuk produksi primer makanan di dunia, yang hampir 200 miliar kilokalori per tahun. Dari produksi utama Bumi, fitoplankton menyumbang lebih dari 50%. Fitoplankton tidak bisa berenang melawan arus air, mereka bukan perenang aktif dan oleh karena itu, zooplankton dan nekton mudah memangsa mereka.
Fitoplankton memegang peranan yang sangat penting dalam suatu perairan, Fungsi ekologinya sebagai produsen primer dan awal mata rantai dalam jaring makanan menyebabkan fitoplankton sering dijadikan skala ukuran kesuburan suatu perairan (Handayani, 2005).
Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas Dinoflgellata tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksik (racun), dalam keadaan blooming dapat mematikan ikan(Davis, 1951).
Selain sebagai fotoautotrof, yang melakukan fotosintesis untuk memperoleh energi (menggunakan sinar matahari, karbon dioksida, dan air), ada juga kemoautotrok. Kemoautotrof tidak menggunakan energi matahari sebagai sumber energi mereka, melainkan energi dengan oksidasi molekul penyumbang elektron di lingkungan mereka. Mereka melakukannya dengan mensintesis semua senyawa organik yang diperlukan dari karbon dioksida, dan bukan dari sumber karbon organik. Contohnya termasuk bakteri yang memperoleh energi dari oksidasi senyawa anorganik seperti hidrogen sulfida, amonium dan besi. Organisme yang membutuhkan senyawa organik sebagai sumber karbon, bahkan jika mereka menggunakan cahaya atau senyawa anorganik sebagai sumber energi, tidak didefinisikan sebagai autotrofik, melainkan sebagai heterotrofik.
Selain sinar matahari (atau sumber energi anorganik dalam kasus kemoautotrof) dan sumber karbon anorganik, fitoplankton juga krusial tergantung pada mineral. Ini adalah terutama makronutrien seperti nitrat, fosfat, atau asam silikat, yang ketersediaan diatur oleh keseimbangan antara apa yang disebut pompa biologis dan luapan dari dalam, perairan yang kaya nutrisi. Namun, di daerah besar seperti Samudra Selatan, fitoplankton juga dibatasi oleh kurangnya mikronutrien zat besi. Hal ini telah menyebabkan beberapa ilmuwan menganjurkan pemupukan besi sebagai alat untuk melawan akumulasi karbon dioksida dari manusia yang menghasilkan (CO2) di atmosfer (Richtel 2007).
Percobaan dalam skala besar telah menambahkan zat besi (biasanya sebagai garam seperti besi sulfat) ke lautan untuk meningkatkan pertumbuhan fitoplankton dan menarik CO2 dari atmosfer ke laut. Namun, kontroversi tentang memanipulasi ekosistem dan efektivitas pemupukan besi telah memperlambat percobaan tersebut (Monastersky 1995).
Fitoplankton dapat dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan komposisi kloroplas :
- fitoplankton dengan klorofil ( ganggang hijau )
- fitoplankton dengan karotenoid (ganggang coklat )
- fitoplankton dengan phycobilins (ganggang biru )
Ada banyak spesies fitoplankton. Mereka masing-masing mengetahui kondisi optimal spesifik mereka.

Faktor lingkungan yang Berpengaruh terhadap fitoplankton adalah:
- Pengaruh Suhu terhadap Fitoplankton
Suhu air dapat mempengaruhi sifat fisika kimia perairan maupun biologi, antara lain kenaikan suhu dapat menurunkan kandungan oksigen serta menaikkan daya toksit yang ada dalam suatu perairan. Suhu air mempengaruhi kandungan oksigen terlarut dalam air, semakin tinggi suhu maka semakin kurang kandungan oksigen terlarut. Perkembangan plankton optimal terjadi dalam kisaran suhu antara 25oc – 30oc (Mujib, 2010).
- Pengaruh Fosfat dan Nitrat terhadap Fitoplankton
Unsur N dan P sering dijadikan sebagai faktor pembatas di dalam suatu perairan karena kedua unsur ini dibutuhkan oleh fitoplankton dalam jumlah yang besar, namun bila kedua unsur tersebut ketersediannya di habitat bersangkutan di bawah kebutuhan minimum, akibatnya pertumbuhan fitoplankton akan terganggu atau populasinya akan menurun. (Basmi, 1995 dalam Daniel, 2007).
Jumlah bentuk total P dan total N di perairan adalah dugaan potensial untuk kesuburan suatu perairan. (Moss, 1998).
Zat hara merupakan zat-zat yang diperlukan dan mempunyai pengaruh terhadap proses dan perkembangan hidup organisme seperti fitoplankton, terutama zat hara nitrat dan fosfat. Kedua zat hara ini berperan penting terhadap sel jaringan jasad hidup organism serta dalam proses fotosintesis.
Menurut Basmi (1995) fitoplankton membutuhkan unsur N dan P dalam pembuatan lemak dan protein tubuh unsur N dan P sering menjadi faktor pembatas dalam produktifitas primer fitoplankton. Unsur tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh fitoplankton secara langsung jika berbentuk nitrat dan orthopospat. Rasio N dan P yang dipakai oleh tumbuhan hijau antara yang di dalam air laut maupun dalam tumbuhan adalah sama yaitu 16 N : 1 P.
Tinggi rendahnya kelimpahan fitoplankton di suatu perairan tergantung pada kandungan zat hara di perairan antara lain nitrat dan fosfat (Nybakken, 1998).
- Pengaruh oksigen terlarut terhadap Fitoplankton
Oksigen terlarut diperlukan oleh tumbuhan air, plankton dan fauna air untuk bernapas serta diperlukan oleh bakteri untuk dekomposisi. Dengan adanya proses dekomposisi yang dilakukan oleh bakteri menyebabkan keadaan unsur hara tetap tersedia di perairan. Hal ini snagat menunjang pertumbuhan air, plankton dan perifiton (Mujib, 2010).
- Pengaruh Kandungan Karbondioksida (CO2) terhadap Fitoplankton
Karbondioksida memegang peranan yang penting sekali sebagai unsur makanan untuk semua tumbuhan-tumbuhan hijau yang mampu berasimilasi, baik tumbuh-tumbuhan renik yang merupakan phytoplankton dalam air maupuntumbuh-tumbuhan tingkat tinggi.
- Pengaruh Aliran air terhadap Fitoplankton
Arus berpengaruh besar terhadap distribusi organisme perairan dan juga meningkatkan terjadinya difusi oksigen dalam perairan. Arus juga membantu penyebab plankton dari satu tempat ke tempat lainnya dan membantu menyuplai bahan makanan yang dibutuhkan plankton (Mujib, 2010).
- Pengaruh Derajat keasaman (ph) terhadap Fitoplankton
Derajat keasaman (ph) berpengaruh sangat besar terhadap tumbuh-tumbuhan dan hewan air sehingga sering digunakan sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau tidaknya kondisi air sebagai media hidup. Apabila derajat keasaman tinggi apakah itu asam atau basa menyebabkan proses fisiologis pada plankton terganggu (Mujib, 2010).
- Pengaruh Cahaya terhadap Fitoplankton
Bagi hewan laut, cahaya mempunyai pengaruh terbesar secara tidak langsung, yakni sebagai sumber energi untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan yang menjadi tumpuan hidup mereka karena menjadi sumber makanan. Cahaya juga merupakan faktor penting dalam hubungannya dengan perpindahan populasi hewan laut. Laju pertumbuhan fitoplankton sangat tergantung pada ketersediaan cahaya di dalam perairan. Hubungan antara cahaya dan perpindahan hewan laut ini banyak dipelajari, terutama pada plankton hewan (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
Menurut Heyman dan Lundgren (1988), laju pertumbuhan maksimum fitoplankton akan mengalami penurunan bila perairan berada pada kondisi ketersediaan cahaya yang rendah.
- Pengaruh Salinitas terhadap Fitoplankton
Salinitas berperanan penting dalam kehidupan organisme, misalnya distribusi biota akuatik. Menyatakan bahwa pada daerah pesisir pantai merupakan perairan dinamis, yang menyebabkan variasi salinitas tidak begitu besar. Organisme yang hidup cenderung mempunyai toleransi terhadap perubahan salinitas sampai dengan 15 ‰ (Nybakken 1992).
Bila ada yang menggunakan isi tulisan ini, jangan lupa cantumkan sumber, dan silahkan copy sebagian yang dikutip lalu masukkan di kolom komentar dibawah ya.
Bila ada pertanyaan, tambahan penjelasan atau ada kekurangan bisa komentar di bawah untuk menyempurnakan artikel ini, lebih baik jika disertakan sumber referensinya. Makasih
